Kamis, 10 Mei 2012

MAKALAH TAFSIR MENGENAL ALLAH SWT


KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang serta segala puji dan syukur kepada-Nya yang telah memberikan rahmat,taupik, dan hidayah-Nya, Tak lupa pula shalawat serta salam kami ucapkan kepada nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga,sahabat-sahabat,dan para pengikut beliau hingga akhir zaman. Sehingga kami dapat menyelesaikan sebuah makalah yang yang berjudul” Mengenal Allah” .

Kami sebagai penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan dalam menulis, menyampaikan kepustakaan yang sekiranya perlu perbaikan dari pembaca. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempunaan makalah ini mendatang baik dari penbaca maupun dosen pembimbing.

Demikian kata pengantar dari kami penulis, semoga makalah ini
bermanfaat dan dapat digunakan sebagai mana mestinya,semoga kita semua mendapatkan faedah dan diterangi hati dalam setiap menuntut ilmu yang bermanfaat untuk dunia dan akherat, terima kasih banyak atas perhatian pembaca sekalian yang budiman





DAFTAR ISI
Kata Pengantar………………....…………………………………………
Daftar Isi………………………………………………………………….
BAB I Pendahuluan
A. Latar Belakang...................................................................................
1)Tujuan penulisan.....................................................................................
2)Batasan masalah......................................................................................
BAB II Pembahasan
B. Eksistensi Allah SWT............................................................................
Surat Al-Hasyr, ayat 22-24.........................................................................
C. Fitrah mengenal Allah….………………………………………………
D. Allah Mengenalkan Diri-Nya.................................................................
1. Mengetahui Nama (sifat) Allah...............................................................
2. Diantara tanda-tanda Kekuasaan-Nya......................................................
BAB III Penutup……………………………………….................……….
.
Kesimpulan...................................................................................................
Daftar Pustaka…..…………………………………………………............






BAB I

PENDAHULUAN




A.LATAR BELAKANG
Al Quran adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
secara bertahap melalui perantara malaikat jibril, didalamnya berisi tentang berbagai
macam ilmu-ilmu ketauhidan, syariat, aqidah, muamalah dan ilmu-imu yang lain, Al
Quran merupakan kitab penyempurna dari tiga kitab yang diturunkan Allah SWT kepada
nabi-nabi sebelumnya yaitu Taurat, Injil dan Zabur, ciri bahasa Al Quran adalah global
atau masih bersifat umum, oleh karenanya dalam memahami Al Quran dibutuhkan

penafsiran secara mendalam. Penafsiran Al Quran yang pertama kali dilakukan oleh Nabi
Muhammad SAW kemudian berlanjut pada masa sahabat-sahabat nabi diteruskan oleh
tabiin, didalam Al-Quran akan banyak dijumpai ayat-ayat yang menyebutkan tentang
keEsaan Allah SWT, bagaimana eksistensi Allah dalam segala hal serta janji-janji Allah
dan fitrah mengenal Allah

Dalam makalah ini kami akan mencoba menyampaikan beberapa ayat yang menyajikan tentang eksistensi keberadaan Allah SWT dan Fitrah mengenal Allah SWT sesuai yang terdapat dalam Al-Quran serta dengan didukung literatur-literatur yang telah kami dapatkan
1
1.1.Tujuan penulisan

Adapun yang menjadi tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mencari tahu tentang
keberadaan dan mengenal Allah melalui tafsir Al-Qur’an,untuk menambah keimanan dan
ketakwaan kita kepada-Nya, dan juga sebagai bahan materi memperluas wawasan
pengetahuan kita dalam studi agama islam baik bagi penulis maupun pembaca.

1.2.Batasan Masalah
Kami penulis membatasi masalah materi pembahasan makalah ini hanya pada” tujuan mengenal Allah SWT”beserta ruang lingkupnya yang berkaitan dengan hal tersebut agar sekiranya dalam penyajian makalah ini tepat dan tidak menyimpang dari judul tersebut.





BAB II
PEMBAHASAN



B.Eksistensi Allah SWT

Surat Al-Hasyr, ayat 22-24
Ayat 22
22 - هُوَ اللَّهُ الَّذي لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ عالِمُ الْغَيْبِ وَ الشَّهادَةِ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحيم
 "Dialah Allah, Yang tiada tuhan selain Dia; Yang Maha Menge­tahui yang ghaib dan yang nyata. Dia adateh Maha Murah, Maha Penyayang.

Penjelasan kata
Al-Biqa’i berkomentar tentang kata (هُوَ)’’ huwa’’ bahwa Dia yang wujud-Nya dari Dzat-Nya sendiri sehingga Dia sama sekali tidak disentuh oleh ‘adam(ketiadaan) dalam bentuk apapun,dan dengan demikian tidak ada wujud yang pantas disifati  dengan kata tersebut selain-Nya,karena Dialah yang hadir pada setiap benak, dan yang gaib (tidak terjangkau) keagungan-Nya oleh semua indra,dank arena itu pula gunung retak karena takut kepada-Nya
Kata (
هُوَ)’’ huwa’’ yang mendahului kata ar-Rahman ar-Rohim berfungsi mengkhususkan kedua sifat itu dalam pengrtiannya yang sempurna hanya untuk Allah swt.

Kata (
      ) Allah  sepintas tidak diperlukan lagi karena kata huwa telah menunjuk kepada-Nya.tetapi ini agaknya untuk menggambarkan semua sifat-sifat-Nya,sebelum menyabut sifat-sifat tertentu,karena kata Allah menunjukkan kepada Dzat yang wajib wujud-Nya itu dengan semua sifat-Nya,baik sifat Dzat maupun sifat fi’I.Apabila kita berkata ‘’Allah’’ maka apa yang kita ucapkan itu,telah mencakup semua nama-nama-Nya yang lain,sedangkan bila kita mengucakan nama-Nya yang lain- Misalnya ar-Rahim atau al-Malik maka ia hanya menggambarkan sifat Rahman,atau sifat kepemilikan-Nya.Rujuklah ke (Qs.al-fatihah) untuk memahami kandungan makna kata Allah,Ilah serta ar-Rahman dan ar-Rahim

Penyebutan sifat ar-Rahman dan ar-Rahim setelah menegaskan pengetahuan-Nya yang menyeluruh mengisyaratkan bahwa Dia Maha Mengetahui keadaan makhluk-Nya sehingga semua diberikan rahmat sesuai kebutuhan dan kewajarannya menerima.

هُوَ اللَّهُ الَّذي لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ         
"Dialah Allah! Yang tiada Tuhan melainkan Dia." (pangkal ayat 22).
 

Inilah pokok pegangan orang pertama dan utama. Segala perhatian dan ingatan di­tujukan kepadaNya, Allah Tuhan Yang Satu.

عالِمُ الْغَيْبِ وَ الشَّهادَةِ
"Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.''

Oleh karena Allah itu meliputi akan segala ruang dan segala waktu, niscaya bagi Allah sama saja diketahuinya yang ghaib dan yang nyata.
Sedang bagi kita sebagai makhluk lebih banyaklah yang ghaib daripada yang nyata. Bahkan apa yang disangka nyata itu, bagi kita pun masih ghaib.

Apa yang tidak nampak oleh mata kita dan tidak kedengaran oleh telinga kita, adalah ghaib bagi kita. Lebih banyak bahagian dalam batang
tubuh kita sendiri yang ghaib bagi kita. Apa yang ada di belakang dinding rumah kita ghaib bagi kita. Apa yang ada di belakang kita ghaib bagi kita. Zaman yang dahulu sebelum
kita lahir, ghaib bagi kita. Zaman depan setelah kita meninggal dunia ini kelak ghaib bagi kita.
Apa yang terpendam dalam bumi di bawah kita? Apa yang terkandung dalam bintang-bintang yang bertebaran di langit di atas kepala kita?
Bagaimana rupa dari nenek kita yang telah meninggal sebelum kita cucu­nya lahir? Padahal terang jelas beliau itu yang menurunkan kita?
Bagaimana­kah agaknya rupa dari cucu kita yang akan lahir sesudah kita mati, padahal dia terdiri dari darah daging kita?

Oh, alangkah terbatasnya pengetahuan manusia dalam alam ini!
Sedangkan yang nyata, nyata itu sendiri bagi kita masih ghaib! Jika ditanya­kan orang kepada kita tentang barang segi empat tempat kita menulis ini, yang umumnya diberi orang nama
meja, maka tidaklah akan sama pandangan sebab itu tidak pula akan sama jawaban tentang barang itu.
Sepintas lalu dapat orang menjawab; "Ini adalah meja!" Tetapi yang lain akan menjawab; "Ini adalah papan!" Dan yang lain akan menjawab; "Ini adalah kayu di hutan yang telah digergaji!" Dan yang lain akan menjawab; "Ini adalah gabungan dari empat anasir asal, yaitu api, angin, air dan tanah.
Sebagian lagi akan menjawab; "Ini adalah kumpulan dari zat yang tidak terbagi lagi (atom) yang telah terkumpul jadi satu.
Sebahagian lagi akan menjawab; "meja hanyalah bentuk saja, atau sifat atau `aradh! Adapun hakikat, atau zat, atau substansi ialah atom yang menyatu…
Lalu ada yang secara cepat kembali saja ke asal muasal; "Semuanya ini adalah benda!" Namun kawannya menjawab; "Bukan benda melainkan tenaga!'' Kawannya yang lain menjawab; "Gabungan tenaga dan benda!"

Akhirnya maka yang nyata itu sendiri pun jadi ghaib.
Allahlah yang Maha Mengetahui hakikat yang sebenarnya.

هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحيم
"Dia adalah Maha Murah, Maha Penyayang." (ujung ayat 22).


Ar-Rahmaan kita artikan Pemurah.. Ar-Rahiim kita artikan Penyayang. Hasil jipratan dari sifat Rahman dan sifat Rahim itu ialah Rahmat. Rahmat itu pun diartikan juga kasih-sayang! Kasih-sayang Allah itu nampak di mana saja, apabila saja!

Kemurahan dan kasih-sayang Ilahi itulah yang kita lihat di mana-mana dan Kasih-sayang serta kemurahan Tuhan itulah yang menyebabkan hidup kita sesuai dalam bumi ini. Kita diberi kemudahan dan penyelenggaraan. Segala sesuatu di atas bumi ini dapat kita memanfaatkan. Bahkan pertalian di antara satu bintang dengan bintang yang lain, pertalian antara bumi dengan bulan, mata­hari dengan bintang-bintang satelitnya, semuanya berjalan dalam lindungan kasih-sayang dan kemurahan Tuhan.

Isaac Newton, Pemikir dan sarjana Inggeris dikenal sebagai manusia yang pertama menemukan teori tentang "daya tarik" yang mempertalikan satu bahagian alam dengan bahagian lain, sehingga dunia ini tidak runtuh dan tidak kucar-kacir. Dikatakan bahwa segala sesuatunya diatur dengan harmonis, se­imbang dan setimbang sehingga semua berjalan langgeng, tak pemah runtuh dan tak pernah jatuh.
Tetapi ahli-ahli Tauhid dan Ma`rifat mengatakan bahwa bukanlah daya "daya tarik" atau rahasia terakhir yang menyebabkan alam jadi harmonis. Mereka mengatakan semuanya ini adalah percikan dari sifat Tuhan yang dua itu; "Rahman dan Rahim, Maha Pemurah dan Maha Penyayang." Dalam kata lain disebut juga bahwa Ar-Rahman dan Ar-Rahim menumbuhkan Cinta, dengan cinta alam ini diciptakan oleh Tuhan.

Penjelasan Ayat

 Ayat ini berbicara tentang sifat-sifat Allah yang dibuktikan dengan penyebutan
kata-kata Allah secara berulang-ulang. KataHuwa dalam ayat ini merujuk kepada Allah, sehingga katahuwa lebih mendahului kata Ar-Rahman, Ar-Rahim yang berfungsi untuk mengkhususkan kedua sifat tersebut dalam pengertian yang maha sempurna yang hanya dimiliki oleh Allah SWT.

Ayat 23
23 - هُوَ اللَّهُ الَّذي لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُ
Dialah Allah, yang tiada Tuhan selain Dia !  Maha Raja ,Maha Suci, Maha Sejahtera,Yang Mengurniakan Keamanan , Maha Memelihara , Maha Perkasa, Maha Gagah , Yang Membesarkan Diri;Maha Sucilah Allah dari apa pun yang mereka persekutukan. "

Penjelasan Kata

هُوَ اللَّهُ الَّذي لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ
"Dialah Allah, yang tiada Tuhan selain Dia!" (pangkal ayat 23).
Itulah pegangan hidup kita. Di sana terletak rahasia kejadian alam ini. Alam menjadi sangat teratur karena Penciptanya hanya satu. Tidak berserikat tidak berkongsi sehingga tidak berebut kuasa di antara yang satu dengan yang lain dan tidak pula berbagi kuasa. Di sinilah terletak inti ajaran Tauhid;
الْمَلِكُ
"Maha Raja,"
Kata (الْمَلِكُ) al-malik terdiri dari huruf-huruf  (    ) mim,(     ) lam dan (     ) kaf yang rangkaiannya mengandung makna kekuatan dan keshahihan.ia pada mulanya berarti ikatan dan penguatan.kata ini terulang didalam al-Qur’an sebanyak lima kali.
al-malik mengandung arti penguasa terhadap sesuatu disebabkan oleh kekuatan pengendalian dan keshahihannya. Malik
yang biasa diterjemahkan raja adalah yang menguasai dan menangani perintah dan larangan,anugrah dan pencabutan dan karena itu biasanya kerajaan terarah kepada manusia dan tidak kepada barang yang sifanya tidak dapat menerima perintah dan larangan.
dimisal­kanlah seluruh alam ini, langit serta bumi, bulan serta bintang, awan yang ber­arak, ombak yang berdebur sebagai suatu kerajaan. Maha Rajanya hanya satu, yaitu Allah! Tidak ada kekuasaan satu raja pun dalam dunia ini yang menyamai Kemaharajaan Allah. Kekuasaan seorang Raja hanyalah terbatas dalam sempadan-sempadan negerinya saja. Bilamana dia keluar dari negerinya, di negeri lain itu dia tidak berkuasa lagi.

Seorang Raja pun hanya berkuasa di kala dia masih hidup; kalau sudah mati harus diganti dengan raja lain. Tidak ada seorang Raja pun yang berkuasa seperti Tuhan, sebab Raja-raja itu dianjung maka tinggi;, diambak maka gadang, diakui baru jadi raja. Malahan ada raja yang dima'zulkan. Namun Allah menjadi si Maharaja diraja sejak asal semula jadi yang tidak ada permulaan dan tidak ada kesudahanNya.
 الْقُدُّوسُ
"Maha Suci"
Kata (الْقُدُّوسُ ) atau ada juga yang menbacanya al-quddus adalah kata yang mengandung makna kesucian.
Dia; Bersih, karena tidak ada maksud buruk dalam kekuasaan mutlak itu. Dia Maha Suci sebab Dia pun bersifat kasih, bersifat Sayang. Tidak ada aniaya terhadap hambaNya, sebab penguasa yang aniaya ialah karena dalam dirinya merasa bahwa orang yang dianiaya itu akan jadi penghalang kuasanya, sebab sama-­sama manusia. Maha Suci Allah dari keinginan-keinginan yang buruk, tanda­nya bahwa orang itu belum mengenal siapa Allah.
السَّلامُ
"Maha Sejahtera,"
yaitu yang berarti juga damai, tidak ada kericuhan dan kekusutan, segala sesuatu berjalan dengan aman sentosa, damai sejahtera. Dan damai serta sejahtera itu adalah pula satu di antara nama atau sifat Allah yang terpandang terlukis di dalam alam. Hendak mencari tahu tentang kebesaran Allah, carilah dalam kesejahteraan pada alam. Sejahtera berarti juga tidak kurang suatu apa; tidak Dia mengharap sesuatu bantuan orang lain. Tidak Dia minta tolong karena ter­desak. Tidak ada cacat dan celaNya.

Oleh karena salam sejahtera itu adalah nama dan sifat dari Tuhan, maka Tuhan pun menginginkan sejahtera di antara sesama makhlukNya. Sehingga Salam adalah dijadikan syi'ar hidup di antara sesama Muslim. Bila bertemu di antara satu sama lain hendaklah mengucapkan salam. Sunnat bagi yang me­mulai, wajib bagi yang menyambut. Dan ada pula Hadis Nabi s.a.w. tentang setengah daripada wirid yang dibaca sesudah sembahyang ialah;

اللهمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ 
 رواه الجماعة إلا البخاري
"Ya Allah, Engkau Salam dan daripada Engkaulah datangnya Salam; Amat banyaklah kumia yang balk dari Engkau, ya Tuhan yang Empunya Keagungan dan Kemuliaan." (Riwayat Jama'ah, yaitu Muslim, Abu Daud, Termidzi, an-Nasa'i, Ibnu Majah dan ad-Darimi)
الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ
"Yang Mengurniakan Keamanan, Maha Memelihara,"
atau yang membuat segala sesuatu aman sentosa. Karena lafaznya ialah al-Mu'min yang boleh juga diartikan Yang Beriman, sebagai hambaNya yang percaya kepadaNya pun dinamai al-Mu'min, orang yang beriman, maka ada juga ahli tafsir yang mem­berikan tafsir bahwa Allah itu memang percaya kepada manusia itu bahwa manusia itu akan sanggup memikul amanatNya.
Sebab di dalam Surat 33, al-Ahzab ayat 72 ada dijelaskan oleh Allah sendiri, bahwa Dia pemah menawar­kan Amanat kepada langit dan bumi dan gunung-gunung, namun semuanya enggan menerima amanat itu karena beratnya, lalu dipikul amanat itu oleh Insan.
Dengan demikian maka percayalah Tuhan Allah kepada makhlukNya yang bernama Insan. Meskipun Tuhan Maha Tahu bahwa Insan itu akan ada juga yang tidak sanggup memikul amanat, namun di antara mereka akan ada yang sanggup. Kalau bukanlah karena kepercayaan Tuhan dan penghargaanNya yang begitu tinggi kepada manusia, tidaklah akan diutusnya Nabi-nabi dan Rasul-rasul membawakan petunjuk-petunjuk langsung dari Tuhan, yang ber­nama Wahyu.

Oleh sebab itu boleh juga sifat Tuhan al-Mu'min itu diartikan menurut wajarnya saja, yaitu yang percaya. Dan sebab itu pula maka hendaklah tiap-­tiap orang yang telah mengaku beriman agar memegang teguh amanat itu selama hidupnya sampai matinya, sehingga bertimbalanlah di antara Makhluk sebagai al-Mu'min dengan al-Khaliq sebagai al-Mu'min pula.
الْعَزيزُ الْجَبَّارُ
"Maha Perkasa, Maha Gagah."
Yang apa saja yang telah diaturNya mesti­lah berlaku. Mana yang melanggar garis yang telah ditentukanNya pasti binasa. Peraturan yang telah ditegakkan oleh Tuhan itu, cobalah bandingkan dengan orang-orang atau manusia yang merasa dirinya gagah perkasa karena ke­dudukan dunia yang pernah dicapainya. Seorang Raja besar yang gagah dan disegani dengan pakaian kebesarannya, diiringkan oleh pengawal peribadinya yang terdiri dari orang-orang terpilih yang mukanya keren dan bengis, jadi kuyu dan kecillah dia di hadapan kegagahperkasaan Allah. Kuyulah dia ketika berhadapan dengan penyakit yang tidak kunjung sembuh. Kuyu dan kecillah dia di hadapan Malaikat Maut yang datang menjemput nyawanya. Bagaimana­pun si Raja hendak bertahan, kian sesaat dia kian hancur. Kian kuyu dan kian layu, sehingga habis hidupnya. Namun Allah tetap gagah.
الْمُتَكَبِّرُ
"Yang Membesarkan Diri;"

Arti yang kita ambil dari Mutakabbir dan yang telab menjadi hahasa Melayu (Indonesia) tekebur dari kata takabbur.
Pada Allah Ta'ala memang patutlah sifat itu dan itulah yang layak. Allah itu berhak buat membesarkan diriNya, karena Dia memang Maha Besar (Allahu Akbar).




Sebab itu maka dalam satu Hadis Qudsi pernah Dia bersabda;
الكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالعِزَّةُ إِزَارِيْ 
رواه الإمام أحمد وأبو داود وإبن ماجه
"Takabbur itu adalah selendangKu, Keperkasaan adalah kainKu."

Artinya pakaian yang pantas Aku memakainya.
Manusia bolehlah berusaha meniru meneladan sifat-sifat Allah yang sesuai untuk dirinya sebagai manusia. Misalnya pengasih, penyayang, pemurah, penyantun, penghiba, pengasuh, pendidik, pemberi ampun, pemberi maaf dan sebagainya. Tetapi janganlah manusia hendak meniru sifat yang tidak boleh ditirunya, terutama tentang takabbur atau mutakabbir, membesarkan diri ini. Karen tidak ada satu manusia yang lebih besar dari manusia yang lain. Semua adalah sama-sama hamba Allah.
سُبْحانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُ
"Maha Sucilah Allah dari apa pun yang mereka persekutukan. " (ujung ayat 23).
Tegasnya ialah bahwa sifat-sifat yang begitu agung dan mulia dan tinggi tidaklah ada pada segala apa yang dicoba menyembah dan memujanya oleh setengah manusia yang musyrik.

Artinya tidaklah sanggup orang-orang atau barang-barang yang mereka sembah itu mendatangkan sejahtera atau keamanan. Tidaklah mereka perkasa sebagai Allah. Tidaklah mereka gagah segagah Tuhan. Dan tidaklah mereka dapat mengangkat menjadi mutakabbir. Sebab itu maka manusia yang mencoba menyembah kepada yang selain Allah adalah mereka merendahkan dan menghinakan diri sendiri di hadapan sesamanya makhluk. Padahal hanya Allah sahaja yang berhak dan yang patut dia puja, disembah, muliakan. Karena memang padaNyalah berkumpul sifat-sifat yang sempuma itu.
Penjelasan Ayat
Ayat ini menyebutkan beberapa sifat Allah yang mampu menggugah ketaatan bagi hamba-hambanya yang selalu mengingat Allah untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Sifat-sifat Allah yang disebut dalam ayat ini adalahAl-Malik (yang maha memiliki/raja), Al-Quddus (maha suci dari segala kekurangan dan segala yang tidak pantas), As-Salam (maha damai dan sejahtera),Al-Mu’m in (maha memberi keamanan),Al-Muhaim in (maha memelihara dan maha mengawasi), Al- Az iz (maha agung),Al-Jabbar (maha perkasa), Al- Mutakabbir (maha tinggi).

*Menurut Thahir Ibn Asyur penyebutan sifat-sifat Allah dalam ayat ini dapat dibagi

menjadi tiga bagian sesuai konteks uraian surat. Bagian pertama sesuai dan berkaitan dengan sikap kaum musyrikin, orang-orang Yahudi dan orang-orang munafikin yang
bekerja sama untuk memusuhi serta memerangi nabi dan kaum muslimin hal ini terdapat
dalam kata-kata La ilha illa Allah, Al-Malik, Al-Aziz, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir.

* Bagian kedua yang sesuai dan berkaitan dengan kaum muslimin terdapat dalam kata- kata
As-Salam, Al-Mu’min Ar-Rahman, Ar-Rahim. Serta bagian ketiga ialah yang berkaitan dengan kedua kelompok yang terdahulu yakni kaum beriman dan kaum pembangkang hal ini terdapat dalam kata-kata Al-Quddus,Al-Muhaimin, Al-Khaliq, Al- Bari’, Al-Mushawwir

Ayat 24
24 - هُوَ اللَّهُ الْخالِقُ الْبارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْماءُ الْحُسْنى‏ يُسَبِّحُ لَهُ ما فِي السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ وَ هُوَ الْعَزيزُ الْحَكيمُ
 "Dialah Allah, Maha Pencipta , Yang Mengadakan , Yang Membentuk rupa , BagiNyalah nama-nama yang baik. Bertasbih kepadaNya apa pun yang ada pada sekalian langit dan bumi , Dan Dia adalah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."


هُوَ اللَّهُ الْخالِقُ
"Dialah Allah, Maha Pencipta." (pangkal ayat 24).
Yaitu bahwa kehendak menjadikan alam dalam berbagai bentuknya ini adalah dari Dia sendiri, tidak karena dikehendaki oleh yang lain;
الْبارِئُ
"Yang Mengadakan, "
daripada tidak ada kepada ada. Jadi bukanlah alam yang Dia ciptakan itu sama terjadi dengan Dia, sebagaimana kepercayaan yang dianut oleh ahli-ahli filsafat, yang mengatakan bahwa alam itu qadim. Sebab itu maka makhluk (yang dijadikan) ini tadinya tidaklah ada. Setelah dia diciptakan oleh Allah, lalu dijadikannya daripada tidak ada kepada ada. Sebab itu maka terjadilah alam ada permulaan, sedang Allah itu jadi dengan sendiriNya dan tidak ada permulaanNya.
الْمُصَوِّرُ
"Yang Membentuk rupa."
Ini pun diperingatkan, yaitu bahwasanya setiap manusia ditentukan oleh wajahnya, segala sesuatu ditentukan namanya, jenisnya dan rerumpunannya karena ciri-ciri khas yang ditentukan pada rupanya. Rupa sesuatu menentukan untuk namanya, khususnya manusia; diberi bentuk sendiri, lain dari bentuk makhluk yang lain.

Pada waktu tafsir ini disusun manusia yang berada di permukaan bumi adalah sekitar 4,000,000,000. (empat milyard). Tidak seorang jua pun yang serupa semua berlain rupa. Meskipun ada perbedaan warna kulit; ada yang putih, kuning dan hitam dan sawo matang, namun yang sama-sama hitam pun tidaklah serupa. Sepuluh orang saudara yang dilahirkan oleh seorang ibu, anak dari satu ayah tidak juga ada yang serupa. Tidak serupa wajahnya, tidak serupa sidik jarinya dan tidak serupa bunyi suaranya. Tiap seseorang diberi satu bentuk badan, satu seri muka, satu sidik jari, satu bunyi suara, sehingga di mana pun dia berada, dia dapat dikenal, misalnya dia si Ahmad, bukan si Hamid.

Fikirkanlah kekayaan dan kebesaran Allah. Sebuah pabrik mobil di Detroit yang terkenal mengeluarkan mobil dari pabriknya sekali dalam lima menit, hanyalah sekedar sekali setahun seorang Insinyur merangkap ahli astetik me­mikirkan bentuk apa yang layak bagi mobil itu untuk tahun depan. Beribu-ribu mobil keluar dalam setahun, namun bentuknya sama, mesinnya sama, atau "model"nya sama; model tahun seribu sembilan ratus sekian….Tetapi manusia lahir setiap detik di seluruh dunia, masing-masing membawa bentuk dan rupa sendiri.
لَهُ الْأَسْماءُ الْحُسْنى‏
"BagiNyalah nama-nama yang baik."

Tuhan berulang kali memberi ingat tentang nama-namaNya yang baik ini di dalam al-Quran. Telah diisyaratkan di dalam Surat 7 al-A`raf ayat 180. Di dalam Surat 17, al-Isra' ayat 110. Surat 20, Thaha ayat 8, dan ayat 24 penutup Surat al-Hasyr sekarang ini. Di Surat al-A'raf (Juzu' 9) al-Asmaul Husnaa telah kita uraikan juga. Dan nama-nama Tuhan yang tersebut sejak ayat 22 sampai ayat 24 ini adalah termasuk di dalam al-Asmaul Husnaa itu jua adanya.

Berkata Sayid Ibnul Murtadhaa dalam kitabnya " litsaarul Haqq "; Ma`rifat atau mengenal kesempumaan Tuhan Yang Maha Mulia, disertai sifat-sifatNya yang sempurna dan nama-namaNya yang baik adalah termasuk kesempumaan Tauhid, yang mesti difahamkan benar-benar. Karena hendak mengetahui kesempurnaan zat Tuhan hendaklah dengan memahamkan tiap-tiap nama Tuhan yang baik itu. Karena tidaklah akan dikenal kesempumaan Zat kalau tidak diketahui sifatnya dan tidak diketahui namanya.

Ada terdapat dua tiga Hadis tentang al-Asmaul Husnaa itu. Di salah satu Hadis dikatakan bahwa nama itu 99 banyaknya. Siapa yang menghapal dan memahamkannya dijanjikan masuk syurga. Tetapi jika dikumpulkan semua nama dari sekalian Hadis itu terdapat lebih dari 99. Imam Ghazali menyatakan pendapat bahwa tentang nama-nama, tidaklah boleh kita menambah nama Allah dari yang telah ditentukan Tuhan dan dijelaskan Rasulullah s.a.w. Tetapi tentang sifat Allah, bolehlah kita menyatakan pendapat kita lebih luas dari nama yang telah tersebut, asal mengandung akan kemuliaan Ilahi.
يُسَبِّحُ لَهُ ما فِي السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ
"Bertasbih kepadaNya apa pun yang ada pada sekalian langit dan bumi."
Yang berarti tunduk dan patuh akan peraturanNya. Akal dan perasaan halus manusia, disertai budi yang tinggi manusia akan turut merasakan tasbih dari sekalian yang di langit dan di bumi itu;
وَ هُوَ الْعَزيزُ الْحَكيمُ
"Dan Dia adalah Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (ujung ayat 24).
Maha Perkasa, sehingga tidak ada satu kekuatan pun yang dapat menantang ketentuan, peraturan dan kekuasaan yang telah Dia garis. Maha Bijaksana, sehingga akal budi yang mendalam akan merasakan kagum melihat kebijaksaan yang tinggi itu. Dan ini semuanya telah banyak dibicarakan pada kesempatan-kesempatan yang lain.

Abu Hurairah dan Anas bin Malik, keduanya banyak hidup di dekat Nabi sehari-harian, sebab kedua beliau termasuk pembantu Peribadi. Kedua beliau menerima anjuran dari Rasulullah s.a.w. supaya memperbanyak membaca akhir dari Surat al-Hasyr ini.

Memang kalau kita baca dengan saksama dan kita fahamkan aI-Asmaul Husnaa yang terkandung di ketiga ayat terakhir itu, jiwa kita akan tegak dan teguh, tidak takut menghadapi apa pun dan siapa pun yang ada di hadapan kita, karena di dalam menyerahkan diri kepada Allah, kita kena sinar dari KebesaranNya.

Penjelasan Ayat
Ayat penutup dari surat Al-Hasyr ini juga menyebutkan tentang sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah SWT, dalam ayat ini terdapat tiga sifat Allah, ketiga sifat tersebut ialahAl- Khaliq (sang pencipta), Al-Bari’ (maha memisahkan sesuatu dari sesuatu), Al- Mushawwir (maha memberi rupa, cara dan subtansi bagi sesuatu) serta yang memiliki segala sifat dalam asmaul husna dan yang terakhir adalahAl-H akim (mahaperkasa lagi maha bijaksana).

Dia Pencipta seluruh makhluk-Nya, Yang mengadakan seluruh makhluk dari tiada ada
kepada ada, Yang membentuk makhluk sesuai dengan tugas den sifatnya masing-masing. Dia mempunyai sifat-sifat yang indah, nama yang agung yang tidak dipunyai oleh orang yang lain, selain dari Dia. Kepada Nya bertasbih dan memuji segala yang ada di langit dan di bumi.

Diriwayatkan oleh Barra bin Azib, Ali bin Abi Talib berkata:
“Hai Barra’ jika engkau berdoa kepada Allah dengan menyebut nama-Nya yang
Agung maka bacalah sepuluh ayat permulaan surah Al Hadid dan akhir surah Al Hasyr. Kemudian mohonkanlah kepada-Nya apa yang engkau kehendaki.”

Sebenarnya yang penting dalam berdoa itu ialah keikhlasan hati, kekhusukan dan ketundukan kepada Allah, maka dengan membaca ayat-ayat itu diharapkan
timbul ikhlas, khusyuk dan tunduk itu, sehingga doa itu diterima Allah.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dari
Nabi SAW,Bersabda:
‘’Sesungguhnya Allah Taala mempunyai 99 nama yang agung, barangsiapa yang
membuat statistiknya (menghafal menghayati dan meresapkannya dalam jiwanya)
niscaya akan masuk surga. Tuhan itu ganjil menyukai yang ganjil’’. (H.R. Bukhari Muslim)

Yang dimaksud dengan menghayati dan meresapkannya di sini ialah memahami benar-benar sifat-sifat Allah itu, merasakan keagungan, kebesaran dan kekuasaan-Nya atas seluruh makhluk, kasih sayang-Nya, sehingga menimbulkan ketundukan, kepatuhan dan kekhusyukan pada setiap orang yang melakukan ibadat kepada-Nya.
Perurutan penyebutan sifat-sifat Allah dalam ayat-ayat ini berfungsi untuk menampik
kesan negatif yang mungkin dapat timbul dalam pikiran makhluk. Ketika mendengar sifat
yang disebutkan sebelumnya sekaligus sebagai penyempurna dari penjelasan ayat-ayat
sebelumnya.


C.FITRAH MENGENAL ALLAH

I. AYAT-AYAT YANG TERKAIT

A.Surat Ar-Rum 22-25

Ayat 22
22.Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan
berlainan - lainan bahasamu dan warna kulitmu.sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.
Ayat 23
23. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang
hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.
Ayat 24
24. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk
(menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.
Ayat 25
25. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).


D. Allah Mengenalkan Diri-Nya
1. Mengetahui Nama (sifat) Allah
Berdasarkan hadits Rasulullah SAW bahwa “Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama. Barang siapa yang menghafalnya, ia masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Maha Gasal (tidak genap) dan cinta kepada hal yang gasal” (HR. Ibnu Majah)
Menghafal nama-nama Allah yang baik ialah mengingat-Nya, menghadirkan maknanya dalam hati serta merasakan bekasnya dalam jiwa.

Imam Tirmidzi menyebutkan 99. Al-Biqa’i berkomentar tentang kata (
وه) huwa pada ( Qs. Al-Hasr ayat 22) bahwa Dia yang wujud-Nya dari Dzat-Nya sendiri sehingga Dia sama sekali tidak disentuh oleh Adam (ketiadaan) dalam bentuk apapun, dan dengan demikian tidak ada wujud yang pantas disifati dengan kata tersebut selain-Nya, karena Dialah yang selalu wujud sejak dahulu hingga kemudian yang tidak terhingga.

Menurut Imam Ghazali, Al-Malik yang merupakan salah satu nama Allah yang Maha

Mulia adalah Dia “Yang Dzat dan sifat-Nya tidak membutuhkan segala yang wujud,
bahkan segala yang wujud butuh kepada-Nya dalam segala sesuatu dan menyangkut
segala sesuatu. Segala sesuatu selain-Nya menjadi milik-Nya.

                Dalam penjelasan beberapa kamus bahasa Arab antara lain karya al-Fairuzabadi
ditemukan bahwa Quddus adalah Ath-Thahr. Auw Al-Mubarak/ yang suci murni atau
yang penuh keberatan.
Agaknya atas dasar inilah ada ulama’ yang mengartikan kata tersebut sebagai yang

menghimpun semua makna-makna yang baik atau yang terpuji dengan segala macam
kebijakan.

Menurut Imam Al-Ghazali, Allah A-Quddus adalah Dia Yang Maha Suci dari segala sifat

yang dapat dijangkau oleh Indra, dikhayalkan oleh imajinasi, diduga oleh waham, atau
yang terlintas dalam nurani dan pikiran.

Dalam surat Al-Hasyr : 24
Menurut Imam Ghazali menjelaskan tiga hal (
                       ) melalui satu ilustrasi, yaitu seperti halnya bangunan, dia membutuhkan seorang yang mengukur apa dan
beberapa banyak yang dibutuhkan dari kayu, bata, luas tanah, jumlah bangunan serta panjang dan lebarnya. Ini dilakukan oleh insiyur yang kemudian membuat gambar dari bangunan yang dimaksud. Setelah itu dibutuhkan buruh-buruh bangunan yang mengerjakannya sehingga tercipta bangunan yang diukur tadi. Selanjutnya masih dibutuhkan lagi orang-orang yang memperhalus, memperindah bangunan itu, yang ditangani oleh orang lain yang bukan buruh bangunan itu. Inilah yang biasa terjadi dalam membangun satu bangunan Allah SWT dalam menciptakan sesuatu, melakukan ketiganya, karena itu Dia, adalah al-Khaliq, al-Bari’, dan al-Musawwir

2. Diantara tanda-tanda Kekuasaan-Nya

a. Penciptaan Langit dan Bumi

Yakni penciptaan langit dalam hal ketinggian, keluasan serta berbagai bentuk makhluk
yang terdapat di dalamnya
b. Perbedaan Bahasa
Yakni bahasa manusia baik bahasa Arab, asing maupun bahasa lainnya.
c. Perbedaan Warna Kulit
Yakni tanda-tanda khusus pada setiap manusia. tanda ini berbeda dari tanda yang dimiliki
oleh manusia yang lain. Tidak ada manusia yang serupa dengan yang lain yang ada
adalah kemiripan tanda, perilaku, bahasa
d. Malam dan Siang

Karakteristik malam yang digunakan untuk beristirahat dan diam, dan menjadikan siang
sebagai ajang untuk menyebar berusaha mencari penghidupan, dan berpergian
e. Adanya Kilat
Kadang-kadang untuk takut dengan gelegarnya dan kadang-kadang untuk mengharapkan
hujan karenanya
f. Dengan diturunkannya hujan maka bumi menjadi hidup kembali setelah sebelumnya
bumi itu kering kerontang dan tandus, setelah turun hujan maka bumipun menjadi sumber
dan gembur, dan menumbuhkan pepohonan sehingga, menjadi rimbun
g. Berdirinya langit dan bumi dengan iradat Nya
Yaitu pada saat bumi berganti dengan bumi lain dan orang-orang mati keluar dari kubur dengan keadaan hidup dengan iradat dan seruannya kepada mereka
h. Apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, sekita itu juga untuk keluar
(dari bumi)
Sesungguhnya pada yang demikian itu merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang
yang mengetahui yang mendengarkan dan yang mempergunakan akalnya dengan baik.






BAB III
KESIMPULAN DAN PENUTUP



 KESIMPULAN
Dengan demikian jelaslah bahwa keimanan kepada Allah memiliki hubungan subtansial

dan fungsional dalam kerangka perumusan konsep pendidikan Islam pada umumnya dan
pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban pada umumnya.

 PENUTUP
Demikianlah makalah yang kami sampaikan tentunya ini semua jauh dari kesempurnaan ,

kritik dan saran yang konstruktif kami harapkan demi perbaikan makalah agar lebih baik.
Dan akhirnya , semoga semua apa yang kitapelajari bisa bermanfaat bagi orang lain dan
khususnya bagi diri kita dan terutama bagi perkuliahan psikologi islam supaya kita bisa
menambah khasanah ilmu dan menambah pengetahuan, amin.

DAFTAR PUSTAKA

M. Quraish Shihab, 2000 Tafsir Al-Mishbah Volume ,1,414 Ciputat ,Lentera
Hati,
Departemen Agama Tafsir Al-Quran, www.tafsir al-quran depag.com,
Eramusli, Terjemahan Tafsir Ibn Katsir, www.eramuslim.com
Eramuslim, Tafsir Al-Azhar, www.eramuslim.com
Qamaruddin shaleh, HAA. Dahlan dan MD. Dahlan, 1986, Asbabun Nuzul,
Bandung, CV. Diponegoro
[1] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volume 1, (Ciputat : Lentera Hati,
2000), hlm 511-514
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volume 4 (Ciputat : Lentera Hati,
2000), hlm 209-213
[3] Departemen Agama, Tafsir Al-Quran, www.tafsir al-quran depag.com,
M.Quraish Shihab,Tafsir Al-misbah Volume 14
Tafsir jalalayn

2 komentar: